Rasio Seduh untuk Sajian Kopi Espresso yang Nikmat February 19, 2022 – Posted in: Kopipedia

Espresso yang merupakan minuman khas Italia ini mungkin menjadi menu wajib di setiap coffee shop. Selain bisa dinikmati secara langsung, minuman ini juga dapat dinikmati dengan berbagai cara. Minuman-minuman tersebut biasanya masuk dalam kategori espresso based.

Mulai dari coffee latte, cappuccino, affogato, americano, bahkan kopi susu kekinian juga menggunakan espresso sebagai bahan utamanya. Oleh karena itu espresso yang dihasilkan harus optimal dulu sebelum bisa disajikan dengan campuran bahan yang lain. Mudahnya jika espresso-nya tidak enak bukan tidak mungkin minuman lain yang dihasilkan juga menjadi tidak enak.

Dalam menyeduh kopi ada yang namanya rasio, merupakan perbandingan antara kopi dan air yang digunakan. Yang menarik rasio yang digunakan dalam pembuatan espresso berbeda dengan yang diformulasikan oleh SCAA, dan disebut Golden Ratio.

Baca juga : Ini Yang Harus Di Perhatikan Saat Membuat Kopi Latte

Karena penggunaan rasio tersebut kemudian dikenal beberapa istilah espresso seperti double shot, ristretto atau juga lungo shot. Apa arti dari istilah-istilah tersebut? Apakah rasanya sama? Nah dalam artikel kali ini kami akan coba menjawab pertanyaan tersebut.

Kopipedia Indonesia

Kopipedia Indonesia

Bergabunglah dengan Facebook Group kami sekarang dan dapatkan informasi terbaru tentang dunia kopi!

Volume Atau Berat

Pada awalnya espresso dihitung berdasar volumenya, yang artinya single shot merupakan espresso bervolume (yield) 30 ml dan double shot dua kalinya, yaitu 60 ml. Namun pengukuran seperti ini menjadi tidak akurat ketika kita mengetahui berapa banyak kopi yang dibutuhkan untuk menghasilkan espresso tersebut. Double shot espresso (60ml) akan terasa berbeda dari kopi dengan berat (dose) 18 gr dan 24 gr.

Selain itu, jika mengukur menggunakan volume akan menemukan espresso yang dihasilkan tidak konsisten. Hal ini karena kopi yang digunakan akan berkurang kesegarannya (degassing) seiring berjalannya waktu. Dan kesegaran kopi berdampak pada crema yang dihasilkan oleh espresso tersebut. Mudahnya, crema espresso yang dihasilkan dari seduhan kopi yang baru di-roasting setelah 2 hari akan berbeda dengan kopi yang diseduh 2-3 minggu setelah roasting.

Baca Juga : Memilih Mesin Espresso Yang Terbaik Sesuai Kebutuhan

Oleh karena itu mengukur berdasarkan berat menjadi pilihan untuk menghasilkan espresso yang konsisten. Baik itu dose yang digunakan sampai yield yang dihasilkan sebaiknya semuanya ditimbang. Nah korelasi antara bubuk kopi (coffee grounds) yang digunakan dan espresso yang dihasilkan (yield) inilah yang disebut brew ratio espresso.

Pentingkah Brew Ratio?

Rasio ini tentu penting karena merupakan semacam panduan untuk menghasilkan espresso yang konsisten dari waktu ke waktu. Selain itu brew ratio ini juga merupakan faktor penting dalam menentukan seberapa banyak air yang keluar dalam ekstraksi kopi. 

Intinya jika semakin banyak air yang ditekan melewati bubuk kopi, semakin banyak juga bubuk kopi yang akan larut, inilah yang disebut ekstraksi. Penggunaan air yang lebih banyak dalam menyeduh dan meningkatkan ekstraksi secara tidak langsung akan mengurangi strength minuman yang dihasilkan, bahkan mungkin encer.

Jadi menentukan ekstraksi yang tepat berarti menemukan rasa yang tepat antara kopi yang digunakan dan espresso yang dihasilkan. Hal ini juga menentukan sweet spot, dimana hasilnya tidak under extraction, juga tidak encer tetapi memberikan rasa di mulut yang seimbang.

Baca Juga : Mengenal Sejarah Dan Komponen Dari Mesin Espresso

Jenis Brew Ratio

Secara umum ada 3 jenis brew ratio dalam espresso, ristretto, traditional dan lungo. 

Ristretto

Biasa juga disebut restricted shot, dimana brew ratio antara dose dan yield adalah 1:1. Yang berarti jika menggunakan 15 gr kopi maka ekstraksi yang dihasilkan juga 15 gr. Biasanya dipilih jika sedang tidak ingin menikmati kopi “sekuat” espresso.

Traditional

Ukuran standard menikmati espresso, bisa dikatakan espresso yang dinikmati pada umumnya. Brew ratio dosage dan yield 1:2-2.5, yang berarti dengan menggunakan kopi 15 gr maka menghasilkan sekitar 30-37.5 gr ekstraksi.

Lungo

Dalam bahasa Inggris berarti long, karena menyeduh espresso dengan brew ratio ini, 1:3. Memerlukan waktu yang lebih panjang daripada menyeduh secara ristretto dan traditional. Mudahnya dengan dose 15 gr minimal menghasilkan ekstraksi 45 gr.

Tetapi perlu diperhatikan juga bahwa brew ratio ini bukanlah hal yang mutlak, tetapi lebih semacam guide line. Secara umum batas kenikmatan espresso antara orang yang satu dengan yang lain juga berbeda. Selain itu juga perlu diperhatikan biji kopi yang digunakan dalam pembuatannya, entah itu single origin atau house blend.

Bagi kalian sendiri, sudah pernah mencicipi ketiga brew ratio espresso di atas? Atau baru mencicipi espresso traditional ? Boleh berbagi di kolom komentar, lebih menyukai yang mana.

Selalu ikuti informasi terbaru perkembangan dunia kopi bersama LUDEN. Salam rahayu.